Di tempat kerja, kemampuan problem solving sering dianggap sebagai kemampuan untuk menemukan solusi dengan cepat. Ketika muncul masalah, kita terbiasa langsung bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?”
Padahal, sebelum mencari jawaban, ada proses berpikir yang tidak kalah penting: memastikan bahwa kita memahami masalah dengan tepat dan tidak terlalu cepat mengunci diri pada satu solusi.
Sebab, solusi yang cepat belum tentu merupakan solusi yang tepat. Kita bisa saja menyelesaikan masalah yang terlihat di permukaan, sementara akar persoalannya masih tetap ada.
Di sinilah creative thinking dan critical thinking memainkan perannya. Keduanya bekerja dengan cara yang berbeda, tetapi justru saling melengkapi dalam proses problem solving.
Jika creative thinking membantu kita melihat lebih banyak kemungkinan, critical thinking membantu kita menentukan kemungkinan mana yang paling masuk akal untuk dipilih.
Dari sinilah kita bisa melihat problem solving melalui tiga tahapan sederhana:
Think Wider → Think Deeper → Decide Better
Think Wider: Jangan Terlalu Cepat Mengunci Jawaban
Ketika menghadapi masalah, manusia cenderung mencari jawaban yang paling familiar.
Misalnya, ketika produktivitas tim menurun, kita mungkin langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kurangnya disiplin. Ketika engagement karyawan rendah, kita mungkin langsung berpikir bahwa mereka membutuhkan program motivasi baru.
Masalahnya, kesimpulan pertama belum tentu merupakan diagnosis yang tepat.
Think Wider mengajak kita menunda kesimpulan dan memperluas kemungkinan yang ada. Di tahap ini, creative thinking berperan penting.
Creative thinking bukan hanya tentang menghasilkan ide yang unik. Dalam problem solving, creative thinking juga berarti kemampuan untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan mempertimbangkan alternatif yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan.
Alih-alih bertanya:
“Apa solusi untuk masalah ini?”
kita bisa memulainya dengan:
“Apa saja kemungkinan yang sedang terjadi?”
Contohnya, produktivitas tim yang menurun bisa disebabkan oleh berbagai hal: prioritas pekerjaan yang tidak jelas, proses kerja yang terlalu panjang, pembagian workload yang tidak seimbang, kurangnya resources, perubahan target, hingga masalah koordinasi.
Dengan membuka lebih banyak kemungkinan, kita menghindari jebakan premature solution—terlalu cepat memberikan solusi sebelum benar-benar memahami persoalannya.
Think Wider pada akhirnya memberikan kita ruang berpikir yang lebih luas sebelum mengambil keputusan.
Think Deeper: Tidak Semua Kemungkinan Adalah Solusi
Setelah membuka berbagai kemungkinan, tantangan berikutnya adalah menentukan mana yang benar-benar relevan.
Di sinilah critical thinking mengambil peran.
Jika creative thinking membantu kita bertanya, “Apa lagi yang mungkin?”, critical thinking membantu kita bertanya:
“Mana yang benar-benar masuk akal, dan apa yang mendukungnya?”
Critical thinking membuat kita tidak langsung percaya pada asumsi, opini, atau kesimpulan yang muncul di awal.
Kita mulai melihat:
- Apa fakta yang kita miliki?
- Apa yang masih berupa asumsi?
- Apa bukti yang mendukung kesimpulan tersebut?
- Apakah kita sedang melihat gejala atau akar masalah?
- Apa konsekuensi dari setiap pilihan?
- Adakah perspektif lain yang belum dipertimbangkan?
Misalnya, setelah mengeksplorasi berbagai kemungkinan, sebuah tim menyimpulkan bahwa rendahnya produktivitas disebabkan oleh proses approval yang terlalu panjang.
Kesimpulan tersebut tetap perlu diuji.
Apakah data menunjukkan bahwa pekerjaan memang banyak tertahan pada tahap approval? Apakah mengurangi approval benar-benar menyelesaikan masalah? Apakah ada risiko jika sebagian keputusan dialihkan kepada tim?
Proses seperti ini membuat kita tidak hanya bertanya “apa yang bisa dilakukan?”, tetapi juga “mengapa kita percaya bahwa ini adalah pilihan yang tepat?”
Dengan begitu, critical thinking berfungsi sebagai filter terhadap berbagai kemungkinan yang sebelumnya telah dibuka oleh creative thinking.
Decide Better: Ketika Thinking Harus Berubah Menjadi Doing
Creative thinking membantu kita menghasilkan kemungkinan. Critical thinking membantu kita mengevaluasinya.
Namun, problem solving tidak berhenti pada keduanya.
Pada akhirnya, kita tetap harus memilih dan bertindak.
Inilah tahap Decide Better.
Keputusan yang baik bukan berarti keputusan yang sempurna. Dalam banyak situasi kerja, kita tidak memiliki informasi yang lengkap, waktu yang tidak terbatas, atau sumber daya yang ideal.
Karena itu, problem solving membutuhkan kemampuan untuk menentukan:
Mana yang paling relevan? Mana yang paling feasible? Mana yang memberikan dampak paling besar? Dan apa yang perlu dilakukan terlebih dahulu?
Misalnya, dari beberapa alternatif untuk memperbaiki proses approval, tim menemukan bahwa mengurangi tahapan approval memang berpotensi mempercepat pekerjaan, tetapi memiliki risiko tertentu.
Daripada berhenti pada analisis, tim dapat memilih pendekatan yang lebih terukur: menentukan jenis keputusan yang bisa dilakukan langsung oleh tim, menetapkan batas kewenangan, kemudian mengevaluasi hasilnya.
Di sinilah problem solving mengubah proses berpikir menjadi tindakan.
Sebab, ide yang bagus tanpa implementasi tetaplah sebuah ide. Begitu pula analisis yang mendalam tanpa keputusan hanya akan menghasilkan lebih banyak pertimbangan.
Think Wider, Decide Better
Jika disederhanakan, hubungan ketiganya dapat dilihat melalui framework berikut:
1. THINK WIDER
Creative Thinking
Perluas kemungkinan sebelum menentukan jawaban.
Pertanyaan:
“What else could be possible?”
↓
2. THINK DEEPER
Critical Thinking
Uji asumsi dan evaluasi berbagai alternatif.
Pertanyaan:
“Which option actually makes sense, and why?”
↓
3. DECIDE BETTER
Problem Solving
Pilih solusi dan ubah menjadi tindakan.
Pertanyaan:
“What should we do next?”
Framework ini juga menunjukkan mengapa creative thinking dan critical thinking sebaiknya tidak dipandang sebagai dua kemampuan yang saling berlawanan.
Keduanya justru berada dalam satu proses.
Creative thinking membuka ruang. Critical thinking mempersempit pilihan. Problem solving mengubah pilihan menjadi tindakan.
Ketika Terlalu Kreatif atau Terlalu Kritis
Dalam praktiknya, kita bisa saja terjebak pada salah satu sisi.
Jika terlalu cepat menggunakan critical thinking, kita mungkin terlalu fokus menemukan alasan mengapa sebuah ide tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, kita menutup kemungkinan sebelum benar-benar mengeksplorasinya.
Sebaliknya, jika terlalu lama berada dalam creative thinking, kita bisa menghasilkan banyak ide tetapi kesulitan menentukan mana yang perlu dijalankan.
Karena itu, tantangannya bukan memilih:
“Haruskah kita berpikir kreatif atau kritis?”
Melainkan memahami:
“Kapan kita perlu memperluas cara berpikir, dan kapan kita perlu mulai mempersempit pilihan?”
Kemampuan berpindah dari satu mode berpikir ke mode lainnya inilah yang membuat proses problem solving menjadi lebih matang.
Problem Solving Dimulai Sebelum Kita Mencari Solusi
Pada akhirnya, problem solving bukan hanya tentang kemampuan menemukan jawaban.
Ia dimulai jauh sebelum kita memilih sebuah solusi—ketika kita memutuskan untuk tidak terburu-buru menerima asumsi pertama, membuka kemungkinan lain, menguji apa yang kita percaya, dan kemudian memilih tindakan berdasarkan pertimbangan yang lebih baik.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat ketika menghadapi masalah bukan hanya:
“Apa solusinya?”
Tetapi:
“Apakah kita sudah melihat masalah ini cukup luas untuk menemukan kemungkinan yang tepat, dan cukup dalam untuk memilih solusi yang tepat?”
Think Wider. Think Deeper. Decide Better.
Sebab, semakin luas kita melihat kemungkinan dan semakin dalam kita menguji pilihan, semakin besar peluang kita untuk tidak hanya menemukan solusi, tetapi menemukan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.



