Di tempat kerja, recognition sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. “Good job,” “Terima kasih sudah membantu,” atau sekadar memberikan apresiasi setelah sebuah pekerjaan selesai.
Meski terlihat kecil, cara seorang leader memberikan recognition sebenarnya dapat memiliki makna yang lebih besar. Apa yang dipilih untuk diapresiasi oleh seorang leader dapat memberi sinyal tentang kontribusi dan perilaku seperti apa yang dianggap bernilai dalam sebuah tim.
Karena itu, recognition bukan hanya tentang membuat karyawan merasa dihargai. Jika dilakukan dengan tepat, recognition juga dapat menjadi bagian dari cara seorang leader membentuk perilaku dan budaya dalam tim.
Recognition Bukan Sekadar Pujian
Ketika seseorang menyelesaikan pekerjaan dengan baik, respons yang paling umum mungkin adalah memberikan pujian.
“Great job!”
Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Namun, apresiasi yang terlalu umum sering kali hanya berhenti pada perasaan positif tanpa memberikan banyak konteks tentang apa yang sebenarnya dilakukan dengan baik.
Bandingkan dengan:
“Cara kamu mengantisipasi pertanyaan dari klien tadi membantu meeting berjalan lebih lancar dan membuat tim bisa mengambil keputusan lebih cepat.”
Apresiasi kedua memiliki informasi yang lebih jelas. Leader tidak hanya mengatakan bahwa hasilnya baik, tetapi juga menunjukkan perilaku dan kontribusi yang menghasilkan dampak tersebut.
Di sinilah recognition dapat menjadi lebih dari sekadar pujian. Ia membantu seseorang memahami, “Apa yang saya lakukan yang ternyata memberikan value?”
Apa yang Leader Pilih untuk Diapresiasi Itu Penting
Dalam sebuah tim, leader secara tidak langsung terus-menerus memberikan sinyal mengenai apa yang dianggap penting.
Ketika leader memberikan perhatian pada seseorang yang berani mengambil inisiatif, misalnya, tim dapat menangkap bahwa proaktif dalam menyelesaikan masalah merupakan perilaku yang dihargai.
Ketika leader mengapresiasi anggota tim yang membantu rekan lain menyelesaikan pekerjaan, pesan yang muncul adalah bahwa kolaborasi juga memiliki nilai, bukan hanya pencapaian individual.
Begitu pula ketika seorang leader mengakui seseorang yang berani menyampaikan perspektif berbeda dalam diskusi. Recognition tersebut dapat menunjukkan bahwa memberikan sudut pandang yang konstruktif merupakan bagian dari kontribusi yang dihargai.
Dengan kata lain, apa yang leader acknowledge ikut membentuk apa yang orang lain perhatikan dan ulangi.
Karena itu, recognition dapat berfungsi sebagai semacam signal dalam kepemimpinan.
Dari Recognition ke Reinforcement
Salah satu kekuatan recognition terletak pada kemampuannya untuk memperkuat perilaku tertentu.
Ketika perilaku positif mendapatkan perhatian dan apresiasi, seseorang mendapatkan gambaran bahwa perilaku tersebut memberikan kontribusi yang berarti. Hal ini dapat mendorongnya untuk mempertahankan atau mengulang perilaku tersebut di kemudian hari.
Misalnya, seorang anggota tim tidak hanya menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi juga menemukan cara untuk menyederhanakan proses kerja.
Leader dapat mengatakan:
“Terima kasih sudah menyelesaikan ini lebih cepat. Cara kamu menyederhanakan prosesnya juga membuat pekerjaan tim berikutnya jadi lebih mudah.”
Recognition tersebut tidak hanya mengapresiasi hasil. Ia juga meng-highlight cara berpikir dan perilaku problem-solving yang berada di balik hasil tersebut.
Dalam konteks leadership, ini penting karena leader tidak hanya bertanggung jawab terhadap apa yang dicapai tim hari ini, tetapi juga terhadap perilaku apa yang perlu terus berkembang untuk mendukung kinerja tim ke depan.
Recognition Juga Membentuk Budaya
Budaya tim tidak selalu terbentuk dari kebijakan atau nilai yang tertulis di dinding perusahaan. Dalam banyak situasi, budaya justru terlihat dari perilaku yang mendapatkan perhatian secara konsisten.
Apa yang dirayakan?
Apa yang mendapatkan apresiasi?
Kontribusi seperti apa yang sering disebut sebagai contoh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu melihat bagaimana sebuah tim secara perlahan mendefinisikan “hal-hal yang dianggap penting”.
Jika leader secara konsisten mengapresiasi kolaborasi, misalnya, anggota tim akan semakin memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang menyelesaikan pekerjaan paling cepat, tetapi juga tentang bagaimana mereka membantu tim mencapai hasil bersama.
Jika inisiatif selalu mendapatkan recognition, orang akan lebih memahami bahwa menunggu instruksi bukan satu-satunya bentuk kontribusi yang dihargai.
Recognition yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengubah nilai yang abstrak menjadi perilaku yang terlihat.
Inilah mengapa recognition memiliki kaitan yang erat dengan leadership. Ia membantu leader menerjemahkan nilai dan ekspektasi menjadi sesuatu yang lebih konkret dalam keseharian tim.
Tidak Semua Recognition Harus Besar
Membangun budaya recognition juga tidak selalu membutuhkan reward yang besar atau anggaran khusus.
Justru, recognition yang efektif sering kali muncul dari interaksi sehari-hari.
Memberikan apresiasi setelah seseorang membantu menyelesaikan masalah. Menyebutkan kontribusi seseorang dalam meeting. Mengirimkan pesan singkat setelah melihat pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Atau memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membagikan praktik baiknya kepada tim.
Yang membuatnya bermakna bukan semata-mata bentuknya, tetapi ketepatan dan ketulusan recognition tersebut.
Ada perbedaan antara:
“Keren, ya!”
dan:
“Aku apresiasi cara kamu tetap melibatkan tim lain sebelum mengambil keputusan. Itu membuat prosesnya lebih lancar dan mengurangi risiko miskomunikasi.”
Yang kedua membutuhkan sedikit lebih banyak perhatian dari leader. Namun, orang yang menerimanya juga mendapatkan sesuatu yang lebih jelas: mereka tahu kontribusi apa yang terlihat dan mengapa kontribusi tersebut bernilai.
Recognition yang Bermakna Dimulai dari Perhatian
Pada akhirnya, membangun recognition culture bukan tentang seberapa sering seorang leader mengatakan “thank you”.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah leader benar-benar memperhatikan kontribusi orang-orang di dalam tim?
Recognition yang bermakna membutuhkan perhatian terhadap proses, bukan hanya hasil. Leader perlu melihat siapa yang mengambil inisiatif, siapa yang membantu rekan kerja, siapa yang mencoba pendekatan baru, siapa yang belajar dari kesalahan, dan siapa yang mungkin berkontribusi tanpa selalu terlihat di permukaan.
Ketika kontribusi tersebut kemudian diakui secara spesifik, recognition menjadi lebih dari sekadar apresiasi.
Ia menjadi feedback tentang perilaku yang menciptakan value.
Dan ketika dilakukan secara konsisten, recognition dapat membantu memperjelas apa yang dihargai oleh tim, memperkuat perilaku yang ingin dipertahankan, sekaligus membangun budaya di mana kontribusi lebih mudah terlihat.
Pada akhirnya, leadership bukan hanya tentang apa yang seorang leader minta dari timnya.
Leadership juga tentang apa yang ia pilih untuk lihat, acknowledge, dan reinforce.
Karena apa yang terus-menerus kita beri perhatian, pada akhirnya dapat menjadi bagian dari budaya yang kita bangun.



